Orang Miskin Dilarang Sekolah

By abethseane

Orang miskin dilarang sekolah,

dari hanya membaca judul buku perlawanan model resist

Lama, tak membakar otak dengan sosialisme. Aku sendiri mulai tergiur dengan kenikmatan hidup ala kapitalis. Masih layakkah mengusung sejenis idealisme, minimal sebagai monumen literature Pribadi.

Aku seorang guru sekolah swasta bonafid dikotaku. Kreatifitas mengantarku memasuki prosedur rumit dan menara gading sekolah itu. “Rumit” bila dilihat sebagai keanehan-keanehan dalam men”siasati’ peraturan Dik Nas -begitu kata yang sering keluar dari bidang kurikulum-.

Aku sendiri adalah icon yang aneh. Berlaku terlalu seniman diantara pengusaha cilik, terlalu spiritual diantara mahluk ” ekonomi” dan cukong-cukong mini, terlalu inklusif diantara kenaifan pemeluk agama yang tak terlalu paham isi doktrinya sendiri. Terlalu sekuler sebagai seorang guru agama.

Inilah alasanku :

Hidup ini terlalu luas untuk dikandangkan dalam dua kutub warna. Hitam-putih. Kutub berpikir, benar-salah, dan kutub moralitas baik –buruk. Mangun menitipkan pesan bagiku, kompleksitas harus dimaknai sebagai serat-serat kecil, yang tak kasad mata , namun menjalankan sebuah fungsi yang sederhana. Dapat disederhanakan. Seorang bayipun tahu apa arti kehangatan dari selimut, hasil cinta kasih manusia sekelilingnya. Serat yang dipintal menjadi kain, tak bermakna bila tak pernah berfungsi sebagai pemberi kehangatan. Sense of purpose

Aku masih menjejakkan kaki di dua perahu. Perahu idealisme dan keutamaan moral, sekaligus perahu dunia riil yang sejahat lewiathan. Sanggar belajar, rencana pembangunan TK, aksi sosial, live in, solidaritas adalah isi perahu yang membuatku ingat sebagai manusia. Isi perahu yang lain, uang, kenikmatan, seks, konsumsi dan materialisme juga bertebaran didekatku. Dalam perahu terakhir itu aku seperti mesin atau mahluk penghasil gen mutant. Kuharap gelombang tidak besar. Karena aku harus membuat bahtera dulu mengganti perahu kecil ini agar tak lagi mendua. Atau aku tenggelam dulu sebelum sempat berlayar.

Tet..tet…tahun baru…Hari ini bukan sepenuhnya baru. Karena aku hampir sudah mengaminkan pola hidup yang disebut siklus kenyamanan. Tetapi ini dapat berubah sontak, jika pikiran revolusi membakarku lagi. Banyak orang akan menyebut aneh dan gila. Itulah karakter dasarnya. Sebenarnya kusuka. Perubahan dan revolusi membuat adrenalinku hidup. Otak dan nuraniku waspada. Penindasan dan penderitaan akan berubah menjadi cerita kepahlawanan. Dan kehidupan kita bukan kilasan waktu, namun menjadi sejarah tertentu. Determined. Namun bukan sekedar ditakdirkan dengan kepasrahan dan kepasifan. Determined, adalah menentukan peran tertentu. Demi hidup yang sekali

Sekolah bukan sekedar gedung dan buku. Sekolah adalah komitmen budaya. Sekolah bukan uang pangkal dan kurikulum, sekolah menjadi kerdil bila diperbudak oleh kurikulum. Asumsiku, kehidupan memiliki otentisitas tertentu di setiap era dan generasinya. Maka kurikulum haruslah terbuka mewadahi subjek dan koteksnya. Sekolah bukan pabrik manusia robot atau pesanan kegilaan jaman. Sekolah adalah interaksi kehidupan manusia. Di sana ada percakapan. Di sana ada kedalaman. Di sana ada pemaknaan. Bukan sekedar tumpukan dalil pengetahuan, sebagai alat hegemoni kekuasaan atau kebekuan struktur sosial yang enggan berpihak pada lapisan akar rumput atau lebih buruk lagi, enggan berdampingan dengan perubahan.

Mengapa murung. Besok kamu mengajar.

Imbas, Kepahitan diriku tentang kesalahan yang tak boleh terjadi, membuatku murung. Manusia jenis apa yang ditumbuhkan pada system yang tidak memahami arti ‘kesalahan’. Seolah-olah seorang nabi baru sedang bernubuat “Marilah kita mengangkat system baru ini sebagai tuhan… pelanggaran atasnya adalah dosa dan dosa mendatangkan hukuman.” Dan tak terbayangkan bagiku, bahwa muridku diperlakukan puluhan kali lebih kejam dariku. Yaitu dalam dunia tanpa kesalahan. Sistem adalah kesempurnaan karena tak boleh ada kesalahan. Puah…Ini dalil apa lagi. Bukankah system adalah kumpulan dari pemilihan perintah benar dan salah, jika perintah salah ditolak, siapa yang mendefinisikan perintah salah ? Justru system adalah seperti adanya alam ini yang begitu sempurna menetralkan gejala yang salah demi kelangsungannya. Tanpa memahami kesalahan tak pernah mengerti system.

Aku tak pernah mengerti benua Amerika kalau aku tidak pernah menyebutnya sebagai Australia. Kejujuran atas kesalahan berbalik menjadi penistaan.Itu adalah tragedy. Bagiku, sekarang ini nuraniku ini adalah musibah terbesar. Karena kita manusia tak boleh salah lagi. Dan dengan bangga sekolah kamu (kami) menggati namanya : “Unmistakable school atau notolerance school”.

Apakah itu apologiamu?

Sesungguhnya semua mahluk berhak berapologi. Tapi itu bukan yang utama. Keutamaannya adalah menemukan diri kita dan peran dalam perjalanan bersama komunitas, sesama atau masyarakat tertentu, disaat tertentu dan dengan hasil tertentu. Aku sendiri nyaris diminta menjadi “seseorang” yang lebih diharapkan dan direstui agar menjaga brand image yang mantap bagi sekolah bonafid itu. Bonafid itu mahal harganya. Seharga dengan nuraniku sebagai manusia?. Sebaiknya Aku merenungkan sekali lagi. Sebelum mengaminkan kalimat ini.

Kesimpulan awalku.

Belum layak aku menyandang gelar guru. Karena kesalahanku terlalu remeh, namun terjadi, menunjukkan kedunguan dari manusia yang tertekan dan bingung.

Maka tulisan ini hanya monumen seorang manusia yang diminta mengajar. Dia tahu persis pesan moral dibalik tulisan orang miskin dilarang sekolah. Sementara sejauh mata memandang penghuni kelasnya adalah anak-anak borjuasi yang haus dunia gemerlap. Aku bisa menjadi sebuah ironi, yang kuyakin bukan kebetulan. Di situasi itu aku diminta Sang Khalik untuk mengartikan sekali lagi siapakah sesamaku manusia ?. Dari sudut kelas nyaman ber-AC itu aku juga mengucapkan kalimat sederhana sebagai manusia yang menyadari keutamaan sifat sosial manusia, “anak-anak, bersama manusia lain dan kebersahajaan, adalah wujud sederhana dari penghargaan pada keadilan sosial.” Keadilan itu juga yang memaknai kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran dan pemanusiaan, tanpa jatuh dalam kemunafikan atau pembusukkan moral dan nurani

Aku bukan filosof, politikus atau budayawan, aku sebagai pencari pemaknaan. Target kecilku adalah masih ada sudut mata yang memandang sesamanya sebagai penghuni jagad yang dirahmati Allah untuk hidup. Kasih cinta dan kesedarajatan itulah isi percakapan di sekolah kehidupan kami. Bukan utopia tapi, sapaan kecil yang berarti. Maka secuil syukur, mendampingi anak kampung yang mengharapkan isi jawaban dari soal mati di lembar soalnya. Sebenarnya aku ingin menjawab juga soal hidup di ajang kehidupan nyatanya. Misalnya bukan ada lima benua di dunia, namun juga ada manusia yang berbeda di luar kita yang bukan semata-mata ancaman bagi hidupmu. Ah itu hanya romantisme niat baik seorang ‘yang di panggil guru’.

Tinggalkan Balasan