Pendidikan ‘tak sama’

By abethseane

Bila Murid adalah Guru

Oleh A. Agung Jatmiko, S.Th.

Mungkin judul ini sedikit menggugat posisi guru. Atau , akan merusak tatanan dan fungsi klasikal pembelajaran. Belum separah itu.. Meminjam dulu kata –kata nasehat umum ‘Jadilah Murid yang baik, mungkin kelak kamu bisa jadi Guru yang baik’. Secara esensial guru dan murid tak hanya dibatasi status , profesi dan stereotype yang umum. Guru sumber ilmu dan murid menyerapnya, dan jika tiba waktunya akan diuji kepintarannya mengeluarkan seluruh kemampuan serapannya. Posisi guru dominan memberi dan murid menerima ilmu. Kita mulai bergeser pada paradigma baru, model ini sudah tidak mutlak kaku, seterusnya. Bagi yang terus berkembang tentu berani menyadari perubahan paradigma dan stereotype lama itu.

Perkembangan zaman, tidak serta merta menggusur kebutuhan dasar manusia untuk bertumbuh, menjadi tahu dan berkembang. Dorongan itu pula yang memotivasi setiap orang mendapatkan pelayanan pendidikan dalam sekolah. Sampai zaman kapanpun kebutuhan belajar dan diikuti mengajar, tak akan pernah putus. Jika kelak semua rumah ada internet, tak perlu lagi repot ke sekolah untuk sekedar bertemu dengan guru yang “killer” itu. Jika semua ada di sana , dan ada sistim yang lebih praktis, tentulah tak perlu lagi guru secara ‘kasad mata’ berdiri kaku di depan kelas kita selama berjam-jam.

Segala pengandaian itu tak salah, namun belum mutlak tepat. Sisi manusia yang unik adalah ketika seseorang mengajar atau menjadi guru (formal/non formal) di situlah tempat paling tepat untuk belajar. Jadi sebenarnya gurupun belajar untuk mengajar. Semakin lama ia mengajar sewajarnya ia lebih banyak belajar. Demikian dengan murid, jika suatu kali ia diposisikan menjadi ‘guru sebentar’dan ia seolah diberi latihan tanggungjawab mengajarkan sesuatu, tentulah ia akan berpikir dua kali, tiga kali atau berkali-kali atas materi apa yang ia akan ajarkan. Diapun menghayati sesuatu yang digali dalam-dalam, berulang-ulang, mengalami betapa paniknya menjawab pertanyaan aneh dan susah. Jika kamu ingin memahami dengan baik cara terbaik adalah dengan cara mengajarkannya. Kalimat ini cukup efektif untuk keduanya. Secara nyata , setiap hari kita sering melihat seorang murid mengajari rumus math, atau memberi teknik tertentu pada temannya, diapun telah menjadi guru, disamping guru di depanya.

Saya bukan guru musik, ada banyak maestro musik selain saya. Namun jika seseorang memposisikan saya menjadi guru musiknya, maka saya akan berusaha memainkan permainan musik terbaik saya. Mencari teknik dan harmoni tertentu yang menjad ciri dan andalan saya, anehnya saat murid itu menirukannya , menanyakannya meminta untuk diajari, saya di sadarkan akan permainan lainnya yang lebih baik. Kejadian selanjutnya , kami menghasilkan bentuk permainan musik baru yang memperkaya kedua pihak. Interaksi spontan, hidup, meaningfull, insprirational, afektif dan empatik yang kental dengan kemanusiaan belum bisa tergantikan oleh sistim teknologi secanggih apapun. Selamat anda adalah murid dan guru terbaik, setidaknya untuk mengajarkan cara mengatasi masalah kehidupan ini menjadi seseorang yang lebik baik.

Tinggalkan Balasan