The Lost Princess
Narator :
Seorang pahlawan adalah pemenang dari kesombongan hati dalam ketulusan berkorban.
Pangeran sejati adalah mencintai dalam kenyataan,
putri tercantik adalah seorang yang menemukan dirinya dalam kejujuran.
Orangtua sejati adalah guru dalam kesulitan.
Act :
Gambar di layar samping, setting istana, dan susana persiapan pasukan menjelang pertempuran untuk menumpas pemberontakan
………Inilah Kisah, pencarian seorang pahlawan demi sesuatu yang paling berharga dan tidak dapat tergantikan……………..
Set :
Keluar dalam bentuk ketikan Kata “ Dalam sebuah Pertempuran pedang “:
Pangeran bertempur sengit dengan seorang kepala pemberontak negeri, dalam langkah akhir ia berhadapan dengan pemimpin pemberontakan yang lama membenci raja dan keturunannya, ia memenangkan duel pedang, tinggal satu langkah ia bisa saja membunuh De Jack, sesaat ia teringat akan ajaran gurunya (flash back-beda layar )
01. Guru Pedang dari Tiongkok (PT) : echoed
“Pangeran…. , puncak keahlian bukan pada ketrampilan pedangmu, namun pada kemampuanmu mengendalikan diri, mengendalikan amarahmu….itulah kemampuan xing-xing”
(sambil berlatih keras)
02. Guru PT :
“Semakin tinggi Kemampuan xinxing seseorang, maka kemampuan supernormal yang terbentuk,.. akan makin banyak. Karena kemampuan xinxing lebih sulit dicapai daripada membentuk ketrampilan pedang, seseorang dengan pikiran yang sesat tidak mampu mengembangkan kemampuan supernormal. Jika engkau tidak berhasil mengendalikan amarahmu maka tidak mungkin bagimu untuk memenangkan pertempuran……
Adegan di panggung
Saat lengah itulah De jack mencoba menikam ulang, namun pangeran segera menguncinya, dalam jarak dekat De jack meludahi pangeran.
03. De jack : “ Ada apa pangeran !….kamu tak berani membunuh lawanmu,…takut dengan darah…hah ksatria yang lemah,….pulang mengadulah pada ibumu!
04. Pangeran : Aku telah mengasah diriku selama lebih dari 10 tahun…. dan berhasil mempertahankan kondisi bertempur tanpa perasaan marah di dalam hati. Maka saya dapat tetap menang tanpa kalah. Tetapi, saat engkau meludahiku,….. memang aku menjadi marah. Tapi , Jika saya membunuhmu, saya tidak akan dapat lagi merasa menang. Maka aku harap dapat menyesuaikan lagi mental saya dan memulainya lagi besok.”
05. De jack : Kita adalah ksatria terlatih, untuk inilah kita berperang, …ayo selesaikan,…bunuhlah aku,…balaskan semua dendammu dan keluarga istana Da Courta….ayo apa lagi yang kau tunggu….
06. Pangeran : keahlianku bukanlah pada kemampuan pedang, namun untuk kemenangan yang sesungguhnya,….sekarang kembalilah, besok kita bertempur lagi…
07. De jack : (terdiam heran- mengejar kaki pangeran dan bersujud)
…pangeran ampunilah pemberontakan hamba,…izinkanlah aku menjadi muridmu….jika kau tolak lebih baik aku mati….seharusnya aku telah mati oleh pedangmu….tak sanggup aku hidup dengan kehinaan sebagai pecundang…… aku… aku mohon pangeran…
08. Narator
Sejak saat itu kemampuan pedang pangeran menjadi lebih tinggi,…namun masih ada pertempuran besar dalam hidupnya….pertempuran dalam hatinya… di dalam istana…
09. Setting : Ruang makan Istana, klip ditayangkan sukacita menyambut kemenangan pasukan pulang dari pertempuran
10. Musik : String, Melankolis, sedih
Sudah lebih dari tiga pertempuran besar dimenangkan Pangeran Serca, tak satupun sukacita menggantikan kerinduan hatinya untuk menemukan kekasih yang mendampinginya. Dikabarkan bahwa kekasihnya terbunuh dalam sebuah tragedi.
Meja perjamuan menjadi terlalu dingin dan besar bagi kesendiriannya,
Sang Raja yang menjelang senja usia tertegun menatap kesedihan dimata sang pangeran, putra mahkota Kerajaan Wisdomy. Permaisuri menangkap semua didalam hatinya yang terus berdoa mengharap keajaiban baru.
Act : Pangeran tak bernafsu menyantap hidangan, ia berjalan ke jendela istana dengan tatapan kosong, duduk lagi menghadap piring dengan dingin, kemurungan benar-benar tak dapat disembunyikan.
