Misscall

By abethseane


Miss call

Bagian Pertama

A jiang, membanting tas sekolah dan menghempaskan tubuh besarnya ke kasur pegas. Terguncang. Naik-turun, besar dan kecil. Terlihat, kekusutan pikiran dan hatinya dari tarikan nafasnya.

Beeeppp, tulalit…lalit suara melodius, diikuti getaran handphone besar – seri keluaran terbaru-.

“Eh…yap, oke ..udah , baik…..ngak ada masalah….” kesah dari A jiang, masih diikuti suara kecil dan deras dari lawan bicaranya, diseberang negara sana. Mami A jiang menanyakan apakah Mbak Jem sudah benar-benar membuatkan sup jamurnya, calling langsung dari Hongkong.

“Benar-benar nggak nyambung” …sering itu saja yang terpikirkan oleh A jiang, dengan perlakuan mami ‘rewelnya’.

Dengan uang sakunya , jelas tak mungkin ia sampai telat makan atau nggak bisa makan enak. Jelas, perlakuan maminya dapat disebut over protectif karena, uang jajan

A Jiang nyaris sama dengan gaji gurunya. Semua tahu gaji guru sekolah bonafide, tentu besar –biasanya-, tapi motor tumpangan mereka bukan terbilang bagus. Sekedar ironik kecil, dalam memandang lingkungan A jiang.

Tak lebih dua jengkal jaraknya , hanya dipisahkan tembok tinggi. Sebelah menyebelah. Ada dua kehidupan berjungkal tajam, berbeda warna. Sebelah dalam adalah perumahan mewah Palma Gading, sedang di sebalik tembok adalah rumah panjang berpetak-petak, disebut orang-orang dengan nama lepas kontrakan Haji Jaim.

Tembok pembatas perumahan mewah itu begitu tinggi . Setinggi itu pula perbedaan atmosfer udara, gaya hidup dan kebiasaan penghuninya.

Dibaliknya ada dunia yang terlalu berbeda. Di dalam tembok kompleks mewah, diisi penghuni yang pasti jenis yang sama dan sama speciesnya, yaitu manusia. Namun berada dengan cara berdeda. Di luar tembok, papan kontrakan berdiri,yang lebih tepat menempel , layaknya benalu parasit bagi image luxury dari Perumahan Palma Gading. Apakah Tuhan masih bisa melihat perbedaan tajam, tak lebih dari dua jengkal jaraknya?

Masih misteri, dan Apakah Tuhan masih tahu, itu juga bukan pertanyaan cerdas, tentang adanya kenyataan yang terlalu tajam berbeda. Sejengkal tanah dengan isi kehidupan terlalu berbeda. Belum ada yang tahu apa maksud ketajaman itu?

Tembok sisi dalam, adalah ruang kamar warna pastel berhawa sejuk oleh mesin pendingin ruangan. Tentu kamar milik A jiang. Sedang sisi sebaliknya tembok itu lusinan manusia sibuk menggaruk tangan dan punggungnya, terusik nyamuk sial, sambil berlomba dengan tajamnya hawa panas kota nan fantastis. Itulah anak beranak tetangga lingkungan Marto. Hanya kamera film independen saja yang dapat menagkapnya sebagai sesuatu yang artistik. Namun tetap tidak menarik bagi kebanyakam mata yang memandang. Klise dan paradoksal.

Marto adalah seorang dari ribuan pencari peruntungan. Menantang beton dan aspal kota dengan sebuah semangat sederhana: “ Ada uang dan tempat bagus di kota sana”. Semangat itu yang mengisi jutaan pemuda desa dizaman Marto. Kenyataannya, Marto tak lebih untuk menyumpal sisi sempit dibalik tembok perumahan mewah bersama ratusan kawan senasibnya. Tambahan lain untuk hidupnya, ada anak seumur dengan A jiang. Anak lelaki tertua dari tiga adik wanita, meramaikan rumah sempit Marto.

Tinggalkan Balasan