Pendidikan ‘tak sama’

Oktober 28, 2008 by abethseane

Bila Murid adalah Guru

Oleh A. Agung Jatmiko, S.Th.

Mungkin judul ini sedikit menggugat posisi guru. Atau , akan merusak tatanan dan fungsi klasikal pembelajaran. Belum separah itu.. Meminjam dulu kata –kata nasehat umum ‘Jadilah Murid yang baik, mungkin kelak kamu bisa jadi Guru yang baik’. Secara esensial guru dan murid tak hanya dibatasi status , profesi dan stereotype yang umum. Guru sumber ilmu dan murid menyerapnya, dan jika tiba waktunya akan diuji kepintarannya mengeluarkan seluruh kemampuan serapannya. Posisi guru dominan memberi dan murid menerima ilmu. Kita mulai bergeser pada paradigma baru, model ini sudah tidak mutlak kaku, seterusnya. Bagi yang terus berkembang tentu berani menyadari perubahan paradigma dan stereotype lama itu.

Perkembangan zaman, tidak serta merta menggusur kebutuhan dasar manusia untuk bertumbuh, menjadi tahu dan berkembang. Dorongan itu pula yang memotivasi setiap orang mendapatkan pelayanan pendidikan dalam sekolah. Sampai zaman kapanpun kebutuhan belajar dan diikuti mengajar, tak akan pernah putus. Jika kelak semua rumah ada internet, tak perlu lagi repot ke sekolah untuk sekedar bertemu dengan guru yang “killer” itu. Jika semua ada di sana , dan ada sistim yang lebih praktis, tentulah tak perlu lagi guru secara ‘kasad mata’ berdiri kaku di depan kelas kita selama berjam-jam.

Segala pengandaian itu tak salah, namun belum mutlak tepat. Sisi manusia yang unik adalah ketika seseorang mengajar atau menjadi guru (formal/non formal) di situlah tempat paling tepat untuk belajar. Jadi sebenarnya gurupun belajar untuk mengajar. Semakin lama ia mengajar sewajarnya ia lebih banyak belajar. Demikian dengan murid, jika suatu kali ia diposisikan menjadi ‘guru sebentar’dan ia seolah diberi latihan tanggungjawab mengajarkan sesuatu, tentulah ia akan berpikir dua kali, tiga kali atau berkali-kali atas materi apa yang ia akan ajarkan. Diapun menghayati sesuatu yang digali dalam-dalam, berulang-ulang, mengalami betapa paniknya menjawab pertanyaan aneh dan susah. Jika kamu ingin memahami dengan baik cara terbaik adalah dengan cara mengajarkannya. Kalimat ini cukup efektif untuk keduanya. Secara nyata , setiap hari kita sering melihat seorang murid mengajari rumus math, atau memberi teknik tertentu pada temannya, diapun telah menjadi guru, disamping guru di depanya.

Saya bukan guru musik, ada banyak maestro musik selain saya. Namun jika seseorang memposisikan saya menjadi guru musiknya, maka saya akan berusaha memainkan permainan musik terbaik saya. Mencari teknik dan harmoni tertentu yang menjad ciri dan andalan saya, anehnya saat murid itu menirukannya , menanyakannya meminta untuk diajari, saya di sadarkan akan permainan lainnya yang lebih baik. Kejadian selanjutnya , kami menghasilkan bentuk permainan musik baru yang memperkaya kedua pihak. Interaksi spontan, hidup, meaningfull, insprirational, afektif dan empatik yang kental dengan kemanusiaan belum bisa tergantikan oleh sistim teknologi secanggih apapun. Selamat anda adalah murid dan guru terbaik, setidaknya untuk mengajarkan cara mengatasi masalah kehidupan ini menjadi seseorang yang lebik baik.

Cari Kerja

Maret 9, 2009 by abethseane

kata kunci ini mungkin diakses oleh jutaan orang. Namun bekerja menurut anda sebagai apa?.Beban , kutukan, hal yang paling menyiksa atau justru tanggungjawab dan kesempatan aktualisasi diri.

Siapapun pasti pernah masuk dalam lubang hitam dunia kerja yang ‘menyesakan atau meyiksa, karena masalah yang dikandung  oleh setiap pekerjaan manusia. Tak peduli apapun dan dimanapun.

Coba, ubah cara memandang dan menyelami dunia kerja. Nikmati banyak hal asyik dalam bekerja. Tantangan dan luasnya horison hidup yang ternyata sangat unik untuk dialami. selamat bekerja

Orang Miskin Dilarang Sekolah

Maret 7, 2009 by abethseane

Orang miskin dilarang sekolah,

dari hanya membaca judul buku perlawanan model resist

Lama, tak membakar otak dengan sosialisme. Aku sendiri mulai tergiur dengan kenikmatan hidup ala kapitalis. Masih layakkah mengusung sejenis idealisme, minimal sebagai monumen literature Pribadi.

Aku seorang guru sekolah swasta bonafid dikotaku. Kreatifitas mengantarku memasuki prosedur rumit dan menara gading sekolah itu. “Rumit” bila dilihat sebagai keanehan-keanehan dalam men”siasati’ peraturan Dik Nas -begitu kata yang sering keluar dari bidang kurikulum-.

Aku sendiri adalah icon yang aneh. Berlaku terlalu seniman diantara pengusaha cilik, terlalu spiritual diantara mahluk ” ekonomi” dan cukong-cukong mini, terlalu inklusif diantara kenaifan pemeluk agama yang tak terlalu paham isi doktrinya sendiri. Terlalu sekuler sebagai seorang guru agama.

Inilah alasanku :

Hidup ini terlalu luas untuk dikandangkan dalam dua kutub warna. Hitam-putih. Kutub berpikir, benar-salah, dan kutub moralitas baik –buruk. Mangun menitipkan pesan bagiku, kompleksitas harus dimaknai sebagai serat-serat kecil, yang tak kasad mata , namun menjalankan sebuah fungsi yang sederhana. Dapat disederhanakan. Seorang bayipun tahu apa arti kehangatan dari selimut, hasil cinta kasih manusia sekelilingnya. Serat yang dipintal menjadi kain, tak bermakna bila tak pernah berfungsi sebagai pemberi kehangatan. Sense of purpose

Aku masih menjejakkan kaki di dua perahu. Perahu idealisme dan keutamaan moral, sekaligus perahu dunia riil yang sejahat lewiathan. Sanggar belajar, rencana pembangunan TK, aksi sosial, live in, solidaritas adalah isi perahu yang membuatku ingat sebagai manusia. Isi perahu yang lain, uang, kenikmatan, seks, konsumsi dan materialisme juga bertebaran didekatku. Dalam perahu terakhir itu aku seperti mesin atau mahluk penghasil gen mutant. Kuharap gelombang tidak besar. Karena aku harus membuat bahtera dulu mengganti perahu kecil ini agar tak lagi mendua. Atau aku tenggelam dulu sebelum sempat berlayar.

Tet..tet…tahun baru…Hari ini bukan sepenuhnya baru. Karena aku hampir sudah mengaminkan pola hidup yang disebut siklus kenyamanan. Tetapi ini dapat berubah sontak, jika pikiran revolusi membakarku lagi. Banyak orang akan menyebut aneh dan gila. Itulah karakter dasarnya. Sebenarnya kusuka. Perubahan dan revolusi membuat adrenalinku hidup. Otak dan nuraniku waspada. Penindasan dan penderitaan akan berubah menjadi cerita kepahlawanan. Dan kehidupan kita bukan kilasan waktu, namun menjadi sejarah tertentu. Determined. Namun bukan sekedar ditakdirkan dengan kepasrahan dan kepasifan. Determined, adalah menentukan peran tertentu. Demi hidup yang sekali

Sekolah bukan sekedar gedung dan buku. Sekolah adalah komitmen budaya. Sekolah bukan uang pangkal dan kurikulum, sekolah menjadi kerdil bila diperbudak oleh kurikulum. Asumsiku, kehidupan memiliki otentisitas tertentu di setiap era dan generasinya. Maka kurikulum haruslah terbuka mewadahi subjek dan koteksnya. Sekolah bukan pabrik manusia robot atau pesanan kegilaan jaman. Sekolah adalah interaksi kehidupan manusia. Di sana ada percakapan. Di sana ada kedalaman. Di sana ada pemaknaan. Bukan sekedar tumpukan dalil pengetahuan, sebagai alat hegemoni kekuasaan atau kebekuan struktur sosial yang enggan berpihak pada lapisan akar rumput atau lebih buruk lagi, enggan berdampingan dengan perubahan.

Mengapa murung. Besok kamu mengajar.

Imbas, Kepahitan diriku tentang kesalahan yang tak boleh terjadi, membuatku murung. Manusia jenis apa yang ditumbuhkan pada system yang tidak memahami arti ‘kesalahan’. Seolah-olah seorang nabi baru sedang bernubuat “Marilah kita mengangkat system baru ini sebagai tuhan… pelanggaran atasnya adalah dosa dan dosa mendatangkan hukuman.” Dan tak terbayangkan bagiku, bahwa muridku diperlakukan puluhan kali lebih kejam dariku. Yaitu dalam dunia tanpa kesalahan. Sistem adalah kesempurnaan karena tak boleh ada kesalahan. Puah…Ini dalil apa lagi. Bukankah system adalah kumpulan dari pemilihan perintah benar dan salah, jika perintah salah ditolak, siapa yang mendefinisikan perintah salah ? Justru system adalah seperti adanya alam ini yang begitu sempurna menetralkan gejala yang salah demi kelangsungannya. Tanpa memahami kesalahan tak pernah mengerti system.

Aku tak pernah mengerti benua Amerika kalau aku tidak pernah menyebutnya sebagai Australia. Kejujuran atas kesalahan berbalik menjadi penistaan.Itu adalah tragedy. Bagiku, sekarang ini nuraniku ini adalah musibah terbesar. Karena kita manusia tak boleh salah lagi. Dan dengan bangga sekolah kamu (kami) menggati namanya : “Unmistakable school atau notolerance school”.

Apakah itu apologiamu?

Sesungguhnya semua mahluk berhak berapologi. Tapi itu bukan yang utama. Keutamaannya adalah menemukan diri kita dan peran dalam perjalanan bersama komunitas, sesama atau masyarakat tertentu, disaat tertentu dan dengan hasil tertentu. Aku sendiri nyaris diminta menjadi “seseorang” yang lebih diharapkan dan direstui agar menjaga brand image yang mantap bagi sekolah bonafid itu. Bonafid itu mahal harganya. Seharga dengan nuraniku sebagai manusia?. Sebaiknya Aku merenungkan sekali lagi. Sebelum mengaminkan kalimat ini.

Kesimpulan awalku.

Belum layak aku menyandang gelar guru. Karena kesalahanku terlalu remeh, namun terjadi, menunjukkan kedunguan dari manusia yang tertekan dan bingung.

Maka tulisan ini hanya monumen seorang manusia yang diminta mengajar. Dia tahu persis pesan moral dibalik tulisan orang miskin dilarang sekolah. Sementara sejauh mata memandang penghuni kelasnya adalah anak-anak borjuasi yang haus dunia gemerlap. Aku bisa menjadi sebuah ironi, yang kuyakin bukan kebetulan. Di situasi itu aku diminta Sang Khalik untuk mengartikan sekali lagi siapakah sesamaku manusia ?. Dari sudut kelas nyaman ber-AC itu aku juga mengucapkan kalimat sederhana sebagai manusia yang menyadari keutamaan sifat sosial manusia, “anak-anak, bersama manusia lain dan kebersahajaan, adalah wujud sederhana dari penghargaan pada keadilan sosial.” Keadilan itu juga yang memaknai kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran dan pemanusiaan, tanpa jatuh dalam kemunafikan atau pembusukkan moral dan nurani

Aku bukan filosof, politikus atau budayawan, aku sebagai pencari pemaknaan. Target kecilku adalah masih ada sudut mata yang memandang sesamanya sebagai penghuni jagad yang dirahmati Allah untuk hidup. Kasih cinta dan kesedarajatan itulah isi percakapan di sekolah kehidupan kami. Bukan utopia tapi, sapaan kecil yang berarti. Maka secuil syukur, mendampingi anak kampung yang mengharapkan isi jawaban dari soal mati di lembar soalnya. Sebenarnya aku ingin menjawab juga soal hidup di ajang kehidupan nyatanya. Misalnya bukan ada lima benua di dunia, namun juga ada manusia yang berbeda di luar kita yang bukan semata-mata ancaman bagi hidupmu. Ah itu hanya romantisme niat baik seorang ‘yang di panggil guru’.

Di dekat Kaki Salib Yesus

Maret 6, 2009 by abethseane

Petrus dan murid lain ; dari kejauhan, memandang nanar pada sesosok tubuh penuh luka

…..tak dibuka penutup muka dan sorbannya, Karena hampir saja Sang pecundang Petrus dikenali oleh seorang anak kecil sebagai pengikutnya.

Hanya dari kejauhan, namun ia tetap mengenali sosok Sang rabuni yang disiksa

….

“kemana lagi aku harus berharap pembebasan, tak mungkin…tak dapat kupercayai apa yang kulihat ini….Mesias sang pembebas yang kukenal, bersamaku penuh dengan kharisma dan tangan mujizat itu….tergolek lemas, terhina….dipermainkan oleh-tentara-tentara kafir……mengapa kami harus kehilangan Pahlawan kami…..Ya, Hashem Allah para rakyat tertindas seperti kami…..

wanita-wanita, Maria magdala , sang pemain kinnor, kecapi daud yang setia mengikuti,bersama wanita-wanita lain pengikutnya….dengan air mata yang tak henti, rintihan pilu para ibu dengan naluri dan cinta kudus mereka pada sesosok menusia yang sedang di gantung, di antara dua penjahat…..wanita itu berdesah pilu

“…masih kami ingat tatapan lembutnya, dengan sepotong kalimat sucinya….masih ku ingat…kalimat itu yang mengubah seluruh sejarah hidupku…Dosamu sudah diampuni….

“Dia berkata pada muridnya kasihmu yang besar menggambarkan betapa banyak dosamu itu, engkau bersamaku dalam kerajaaNya…..Dia bukan seperti guru yahudi, angkuh dan tak memberi tempat bagi perempuan hina….menurut pandangan mereka….kami seperti aib dalam hidup agama mereka yang sombong……”

“ kalian wanita-wanita bodoh….apalagi yang kamu harap pada mesias yang sekarat itu…pergi pulang dan kembalilah membuat roti…”

“kami para perempuan diterima hangat bersama para muridnya,….pertama kalinya kami diizinkan mengikuti guru yang diurapi Allah……tak mungkin kami tinggalkan dia, apa lagi dalam kesengsaraanNya….tak mungkin..

“ Orang seperti itu tak layak disebut guru, ia menghasut dan bergaul dengan para pelacur”

“…….dengan persekongkolan para dewan agama itu…..guru kami, yang kami ikuti….kami melayani orang miskin bersama….aku pernah menciumi kakinya, menuangkan minyak mahal demi mengingat dosaku….Katanya “minyak ini sebagai persiapan kematiannya,…..menyekanya dengan rambutku……dan sekarang….

kaki yang sama itu sekarang pecah oleh ,paku pasukan roma.

Kaki itu meneteskan darah……darah tak berdosanya …..”

“Ya allah berilah kami kekuatan,…untuk tetap mengingat pesan sucinya……bahwa kami harus tetap bersaudara dan mengasihi…..bahkan untuk orang yang membenci kami………..”

Dimata dan percakapan pasukan

“ ratusan pemberontak kugantung di kayu hina itu….semuanya meneriakkan kebencian, sumpah serapah dan kemarahan atas hukuman….

“dia bukan orang yang layak dihukum….aku menghafal tatapan mata penjahat….aku tau umpatan mereka, namun…. Tak sepatah katapun dari orang ini mengutuk kami……

Dia berdoa pada Allahnya untuk kami……….orang gila mana yang dapat melakukan ,….dia buka orang yang harus disalibkan……dia orang suci

Arak-arakan panik dan histeris itu benar-benar, menyita seluruh kota….Jumat ini hari yang suram….anak-anak Yerusalem melihat sekali lagi, seorang yang ‘dihakimi’ oleh kebusukan ambisi dan kebencian berbaju agama….dan dengan ajaran agama yang dimanipulasi Dia diseret ke lembah kematian……,pemandangan ini adalah penistaan berita kitab suci…arak-arakan ini…harusnya sudah berhenti dan tak lagi diulangi….jika kami dan mereka mengerti isi kitab para nabi….arak-arakan ini adalah kehinaan kami yang tak menerima kebenaran dari Sang Guru sederhana itu……Tuhan kasihanilah kami.

Agama Kristen

Februari 14, 2009 by abethseane

Kristen itu adalah agama. Namun agama tidak hanya kristen saja. Sering, term-term terbuka seperti itu memancing banyak hal. Kebanyakan pembicaraan tentang agama diikuti dengan sejumlah besar kepentingan, pengalaman dan cara pandang yang ’sangat ekslusif’,bahkan pada diskusi dan seminar inter religi sekalipun.

Kerinduan dan keterlibatan khusus, yang mengarahkan saya pada
pengakuan bahwa kekristenan bukan sekedar agama.

Karena ‘Bagaimana bisa, saya menjelaskan air mata doa-doa saya, selalu terarah pada ’seseorang’ yang saya percayai’, bahwa Dia akan menjadi ‘apapun dari setiap pergumulan dan
ketidakmampuan saya.

Dan sesorang itu adalah Yesus Kristus. Menjadi menarik dan penuh arti jika
perjumpaan dengan Yesus agama, atau Yesus ‘impersonal’, Yesus universal,
Yesus anonim dan banyak predikat yang rumit itu, justru bermuara
pada kesadaran tentang Yesus yang berjalan disebelah saya.

Jika saya mempersonifikasikan Yesus yang terlalu suyektif untuk
kepentingan
dan perjalanan sejarah hidup saya, saya tak bisa memaksakan diri agar pengalaman itu diwadahi dan diakui oleh ‘wadah agama’ yang statis dan bersifat ‘tak berubah’. Jadi pengalaman personal saya bukan ‘materi doktrin baru’ dari agama kristen, namun saya ijinkan seseorang atau negara menyebut saya seorang kristen, sementara disisi lain saya lebih nyaman dengan pengakuan diri bahwa saya seseorang yang bersama Yesus dalam mencari dan menemukan pemaknaan hidup dan kematian.

Menipu Tuhan

Oktober 28, 2008 by abethseane

Menipu Tuhan Dan Doa Para Tikus

Guru Abunawas sering membingungkan para murid, karena dengan pertanyaan yang sama ia memberi jawaban berbeda kepada para tamu yang datang ke perguruannya.

Murid :” Manakah yang lebih utama, orang yang melakukan dosa kecil atau orang yang melakukan dosa besar?

Jawab Abunawas :”Orang dengan dosa kecil”

“ Mengapa?”

Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan”

tamu pertama puas karena ia yakin begitu.

“Manakah yang lebih utama, orang yang melakukan dosa kecil atau orang yang melakukan dosa besar?”

Jawab guru Abu “ Orang yang tidak melakukan keduanya”

“Mengapa?”

“Kalau tidak melakukan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan.”

Tamu ketiga bertanya : ” Manakah yang lebih utama, orang yang melakukan dosa kecil atau orang yang melakukan dosa besar?”

Jawab Sang Guru :“orang yang melakukan dosa-dosa besar”

Murid bingung….. “mengapa jawaban berbeda?”

Manusia dibagi tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati

Maksudnya seorang anak kecil melihat bintang di langit ia mengatakan bintang itu kecil, karena hanya menggunakan mata

Orang pandai/berilmu melihat bintang , ia mengatakan bintang itu besar karena pengetahuan

“lalu apakah tingkatan hati itu?”

Tingkatan hati adalah orang pandai dan mengerti melihat bintang itu, ia tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tak ada yang lebih besar jika dibandingkan dengan kebesaran Allah”

“wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?”

“mungkin” ,

“ bagaimana caranya ? “

“Dengan merayuNya melalui pujian dan doa “

“ajarkanlah doa itu !”

“Coba dengarkanlah doa tikus-tikus itu !”

Doa tikus-tikus

Tuhanku !

Bintang –bintang itu begitu kecil

Sebenarnya aku senang melihat mereka dari dekat.

Tetapi Engkau menaruhnya

Jauh di angkasa.

Tuhanku,

Angkatlah aku ke atas.

Renungan: (dibawakan Siswa )

Kita sering tidak berani mendengarkan suara kebenaran dalam hati. Karena kita ditekan untuk menunjukkan hasil yang hebat, tak peduli bagaimanapun cara meraihnya. Melakukan kebenaran memang tidak mudah, tetapi juga bukan hal yang imposible (tidak mungkin)

Walaupun cita-cita dan harapan kita setinggi bintang di angkasa, bisa saja itu impian yang ditaruh Tuhan dalam hati kita……namun…sering kita berdoa agar Tuhan menurunkan Bintang itu …

Renungkanlah sekali lagi….

jika Tuhan sepertinya diam tak menjawab.

Tetaplah berdoa……

…….tetapi berdoalah agar Tuhan mengangkat kita ke atas .

Disusun untuk doa bersama Siswa-Kristen-Katholik SMP Karangturi, diambil dari : MB.Rahimsyah , Kisah 1001 Malam Abunawas Sang Pangeran Hati, Lintas Media, Jombang , dan Angela Toigo, Doa-doa Seekor Tikus, Nusa Indah, Flores, NTT.

Compiler : Abednego Agung & Agustinus Sukarno

sekolah tahun 2050

Oktober 28, 2008 by abethseane

TAMPILAN guru dan murid Dalam Wisuda 2008

Ide : Abednego Agung Jatmiko

Sekolah 2050

Seorang anak berpakaian unik ( perkiraan trend 2020 ) duduk dikelilingi banyak alat-alat canggih. Ia sibuk memencet tombol ini itu.

Sebuah alat bersuara :

Selamat datang di cyber media, suhu hari ini 40 derajat Celcius. Di Kutub Antartika Tim Profesor Lang, sedang membuat awan buatan dalam proyek H2so8Xy yang akan mengkoreksi suhu bumi secara global …..(tutut///tulalit)

Anak : Berapa Tera byte yang dibutuhkan prosesor Briliant, untuk menghitung jarak orbit pesawat Kelenger, mencapai statius terdekat…..(tualit…ti.tit..suara proses mesin canggih)

Alat 2 : kapasitas 2008J x 10 pangkat 6 , terabyte dengan sub mesin ganda…..(suara robot)

……………………

Lagu : ( reff :dokter cinta :Ahmad)

“ Mama, mama,mama tolong daftarkan aku ini ,

masuk ke sekolah super canggih, sekolah tanpa guru.”

Mama : memangnya da sekolah yang kayak begitu ?

Narator (berdandan ala sinden gosip) membawakan gosip ilmiah 2020

Lagu : Mbah dukun- versi Alam (Seorang narator) Ada cerita , terjadi di masa datang, konon katanya , sekolah tak pakai guru. Semua pakek alat, yang dijamin tidak bisa marah. Bisa diperintah ini itu, tanpa pakek nolak. Coba bayangkan anak kita nanti kayak apa, jadi orang pinter, super, hiper tapi malah kuper…..gak tahu harus dibilang apa?

Kepala sekolah 2020 : Dandanan eksentrik….canggih buanget

“Selamat datang di sekolah 2020. Dengan alat canggih sekolah ini dirancang dioperasikan oleh komputer utama. Pendaftaran pencet tombol hijau, Isi pelajaran pencet tombol kuning, lihat nilai pencet tombol merah, pembayaran pencet tombol biru…..”

Calon siswa : Kalau mau izin ga masuk , tombol apa?

K. Sekolah 2020 : Ga perlu izin, karena anda bisa akses komputer itu dari rumah, toko, pasar atau dari kamar tidurmu.

Wow ………wow

(lagu T2 Judul : Aaaahh Oke…… Sekolah ini oke, teknologinya …oke…,prestasinya…oke, lulusannya …oke…..

Narator : tapi…..tunggu…tunggu ada masalah nih……..(suara gemuruh mesin rusak )

Anak 2050 :

lanjutan lagu” oke” : Aku bingung sendiri, Semua serba sendiri, bagaimana

caranya, bermain bola pingpong, juga mencari teman, cerita sama siapa, pinterku untuk apa….tak ada sapa-sapa, tak bisa lomba masak, ga pernah nongkrong bareng…..

Bosan…………..

ah aku mau main game terbaru judulnya….. “Semarak pentas dangdut “

wah ini ….baru …belum pernah main yang ini

Narator :

anak sekolah dua ribu limapuluh, jadi superman, bisa jawab apa saja, bisa buat apa saja, bisa tau apa saja…anehnya saat dia lihat dalam film, gak tau kalau ada seorang penyanyi yang bisa menari itu adalah manusia , dipikirnya itu species baru…..ia memaksakan menggerakkan penyanyi dan penari itu dengan joy stick…seperti video game…seperti mengoperasikan alat-alat canggih lainnya

…………………………………………. (cut off bisa dinarasi atau act)

penyanyi tidak nurut perintah anak 2050, lalu dia marah dilemparkan joy stik ke arah penyanyi itu……penyanyi itu bisa respon, sambil melotot, menegur dan menjewer kupingnya……

Ayo sekolah…..ini bukan sekolah….ayo sekolah…. untuk ajari kamu menjadi manusia…..

ending :

Siswa diajak menari oleh guru dan menyanyi , di senang sekali. Ternyata hampir saja ia membatu dan kaku seperti robot karena kebanyakan bergaul dengan alat.

Message :

Sekolah adalah sekolah manusia,

oleh manusia

dan untuk manusia.

Jaman ataupun alat

tak pernah menggantikan nilai dan sifat mulia ini.

Sekolah sejati

Membangun seorang manusia

Bukan menjadi ciptaan yang lain.

Catatan : ( dimodifikasi sesuai setting, waktu, pemain dan properti)

The great counsellor

Mei 19, 2008 by abethseane

“Lambang pemerintahan ada dibahunya, namaNya disebut sebagai Bapa yang kekal , raja damai dan Penasehat ajaib….” petikan ayat ini terpatri dalam bawah sadar saya. Lebih lagi dilagukan oleh seorang bersuara berat dengan musik meditatif yang tetap tak terlupakan.

Penasehat ajaib, The great Counsellor, yang kumaksud memanglah pribadi spiritual , transenden , butuh kepasitas dan kesiapa rohani untuk memahami isi nasehatnya. Betapa saya membutuhkan konseling, teman bicara dan penasehat ketika banyak problem yang meracuni pikiran dan menyesakkan hati.

Tuhan, bicaralah….tunjukkan arahnya…..kadang berakhir dengan keheningan.

Saudara, teman ataukah seseorang yang kita kasihi atau kita percaya justru bukan alamat yang tepat untuk bicara….kadang aku sering menghakimi lagi. samapi suatu waktu aku coba kirim sms pendek pada sahabat lama. Dia seperti ‘kakak’ impianku, dia kudengar….responya, mengubahkan. Ada kesalahan dalam diri yang tak pernah terlihat olehku. Perubahan kukerjakan dalam semangat pencerahan yang kreatif. Kakak ini menyalakan ‘lentera kecil’. Penasehat ajaib itu juga telah mempunyai murid. Ia dipakai oleh sang penasehat ajaib itu, untuk membantuku.

Temukanlah penasehat ajaibmu.Siapa saja, kapanpun itu….sang Kalikh dapat saja menitipkan pesan untukmu.

The Lost Princess

April 30, 2008 by abethseane

The Lost Princess

Narator :

Seorang pahlawan adalah pemenang dari kesombongan hati dalam ketulusan berkorban.

Pangeran sejati adalah mencintai dalam kenyataan,

putri tercantik adalah seorang yang menemukan dirinya dalam kejujuran.

Orangtua sejati adalah guru dalam kesulitan.

Act :

Gambar di layar samping, setting istana, dan susana persiapan pasukan menjelang pertempuran untuk menumpas pemberontakan

………Inilah Kisah, pencarian seorang pahlawan demi sesuatu yang paling berharga dan tidak dapat tergantikan……………..

Set :

Keluar dalam bentuk ketikan Kata “ Dalam sebuah Pertempuran pedang “:

Pangeran bertempur sengit dengan seorang kepala pemberontak negeri, dalam langkah akhir ia berhadapan dengan pemimpin pemberontakan yang lama membenci raja dan keturunannya, ia memenangkan duel pedang, tinggal satu langkah ia bisa saja membunuh De Jack, sesaat ia teringat akan ajaran gurunya (flash back-beda layar )

01. Guru Pedang dari Tiongkok (PT) : echoed

“Pangeran…. , puncak keahlian bukan pada ketrampilan pedangmu, namun pada kemampuanmu mengendalikan diri, mengendalikan amarahmu….itulah kemampuan xing-xing”

(sambil berlatih keras)

02. Guru PT :

“Semakin tinggi Kemampuan xinxing seseorang, maka kemampuan supernormal yang terbentuk,.. akan makin banyak. Karena kemampuan xinxing lebih sulit dicapai daripada membentuk ketrampilan pedang, seseorang dengan pikiran yang sesat tidak mampu mengembangkan kemampuan supernormal. Jika engkau tidak berhasil mengendalikan amarahmu maka tidak mungkin bagimu untuk memenangkan pertempuran……

Adegan di panggung

Saat lengah itulah De jack mencoba menikam ulang, namun pangeran segera menguncinya, dalam jarak dekat De jack meludahi pangeran.

03. De jack : “ Ada apa pangeran !….kamu tak berani membunuh lawanmu,…takut dengan darah…hah ksatria yang lemah,….pulang mengadulah pada ibumu!

04. Pangeran : Aku telah mengasah diriku selama lebih dari 10 tahun…. dan berhasil mempertahankan kondisi bertempur tanpa perasaan marah di dalam hati. Maka saya dapat tetap menang tanpa kalah. Tetapi, saat engkau meludahiku,….. memang aku menjadi marah. Tapi , Jika saya membunuhmu, saya tidak akan dapat lagi merasa menang. Maka aku harap dapat menyesuaikan lagi mental saya dan memulainya lagi besok.”

05. De jack : Kita adalah ksatria terlatih, untuk inilah kita berperang, …ayo selesaikan,…bunuhlah aku,…balaskan semua dendammu dan keluarga istana Da Courta….ayo apa lagi yang kau tunggu….

06. Pangeran : keahlianku bukanlah pada kemampuan pedang, namun untuk kemenangan yang sesungguhnya,….sekarang kembalilah, besok kita bertempur lagi…

07. De jack : (terdiam heran- mengejar kaki pangeran dan bersujud)

…pangeran ampunilah pemberontakan hamba,…izinkanlah aku menjadi muridmu….jika kau tolak lebih baik aku mati….seharusnya aku telah mati oleh pedangmu….tak sanggup aku hidup dengan kehinaan sebagai pecundang…… aku… aku mohon pangeran…

08. Narator

Sejak saat itu kemampuan pedang pangeran menjadi lebih tinggi,…namun masih ada pertempuran besar dalam hidupnya….pertempuran dalam hatinya… di dalam istana…

09. Setting : Ruang makan Istana, klip ditayangkan sukacita menyambut kemenangan pasukan pulang dari pertempuran

10. Musik : String, Melankolis, sedih

Sudah lebih dari tiga pertempuran besar dimenangkan Pangeran Serca, tak satupun sukacita menggantikan kerinduan hatinya untuk menemukan kekasih yang mendampinginya. Dikabarkan bahwa kekasihnya terbunuh dalam sebuah tragedi.

Meja perjamuan menjadi terlalu dingin dan besar bagi kesendiriannya,

Sang Raja yang menjelang senja usia tertegun menatap kesedihan dimata sang pangeran, putra mahkota Kerajaan Wisdomy. Permaisuri menangkap semua didalam hatinya yang terus berdoa mengharap keajaiban baru.

Act : Pangeran tak bernafsu menyantap hidangan, ia berjalan ke jendela istana dengan tatapan kosong, duduk lagi menghadap piring dengan dingin, kemurungan benar-benar tak dapat disembunyikan.

Misscall

April 30, 2008 by abethseane


Miss call

Bagian Pertama

A jiang, membanting tas sekolah dan menghempaskan tubuh besarnya ke kasur pegas. Terguncang. Naik-turun, besar dan kecil. Terlihat, kekusutan pikiran dan hatinya dari tarikan nafasnya.

Beeeppp, tulalit…lalit suara melodius, diikuti getaran handphone besar – seri keluaran terbaru-.

“Eh…yap, oke ..udah , baik…..ngak ada masalah….” kesah dari A jiang, masih diikuti suara kecil dan deras dari lawan bicaranya, diseberang negara sana. Mami A jiang menanyakan apakah Mbak Jem sudah benar-benar membuatkan sup jamurnya, calling langsung dari Hongkong.

“Benar-benar nggak nyambung” …sering itu saja yang terpikirkan oleh A jiang, dengan perlakuan mami ‘rewelnya’.

Dengan uang sakunya , jelas tak mungkin ia sampai telat makan atau nggak bisa makan enak. Jelas, perlakuan maminya dapat disebut over protectif karena, uang jajan

A Jiang nyaris sama dengan gaji gurunya. Semua tahu gaji guru sekolah bonafide, tentu besar –biasanya-, tapi motor tumpangan mereka bukan terbilang bagus. Sekedar ironik kecil, dalam memandang lingkungan A jiang.

Tak lebih dua jengkal jaraknya , hanya dipisahkan tembok tinggi. Sebelah menyebelah. Ada dua kehidupan berjungkal tajam, berbeda warna. Sebelah dalam adalah perumahan mewah Palma Gading, sedang di sebalik tembok adalah rumah panjang berpetak-petak, disebut orang-orang dengan nama lepas kontrakan Haji Jaim.

Tembok pembatas perumahan mewah itu begitu tinggi . Setinggi itu pula perbedaan atmosfer udara, gaya hidup dan kebiasaan penghuninya.

Dibaliknya ada dunia yang terlalu berbeda. Di dalam tembok kompleks mewah, diisi penghuni yang pasti jenis yang sama dan sama speciesnya, yaitu manusia. Namun berada dengan cara berdeda. Di luar tembok, papan kontrakan berdiri,yang lebih tepat menempel , layaknya benalu parasit bagi image luxury dari Perumahan Palma Gading. Apakah Tuhan masih bisa melihat perbedaan tajam, tak lebih dari dua jengkal jaraknya?

Masih misteri, dan Apakah Tuhan masih tahu, itu juga bukan pertanyaan cerdas, tentang adanya kenyataan yang terlalu tajam berbeda. Sejengkal tanah dengan isi kehidupan terlalu berbeda. Belum ada yang tahu apa maksud ketajaman itu?

Tembok sisi dalam, adalah ruang kamar warna pastel berhawa sejuk oleh mesin pendingin ruangan. Tentu kamar milik A jiang. Sedang sisi sebaliknya tembok itu lusinan manusia sibuk menggaruk tangan dan punggungnya, terusik nyamuk sial, sambil berlomba dengan tajamnya hawa panas kota nan fantastis. Itulah anak beranak tetangga lingkungan Marto. Hanya kamera film independen saja yang dapat menagkapnya sebagai sesuatu yang artistik. Namun tetap tidak menarik bagi kebanyakam mata yang memandang. Klise dan paradoksal.

Marto adalah seorang dari ribuan pencari peruntungan. Menantang beton dan aspal kota dengan sebuah semangat sederhana: “ Ada uang dan tempat bagus di kota sana”. Semangat itu yang mengisi jutaan pemuda desa dizaman Marto. Kenyataannya, Marto tak lebih untuk menyumpal sisi sempit dibalik tembok perumahan mewah bersama ratusan kawan senasibnya. Tambahan lain untuk hidupnya, ada anak seumur dengan A jiang. Anak lelaki tertua dari tiga adik wanita, meramaikan rumah sempit Marto.